Langsung ke konten utama

Melodi Sore Hari



I wanna grow old with you...


Di pojok kedai kopi yang kita dirikan,
Kau memainkan gitar akustik tua mu
Tak ada nyanyian seperti biasa, hanya melodi

Aku baru saja merapihkan perpustakaan, di pojok idola kita
Lalu duduk dengan sebuah buku
Sembari menikmati setiap bunyi yang kau petik

Di depan kita sudah ada cappucino hangat
Dengan latte art favoritku,
Tentu, kau sendiri yang membuatnya.

Sore mulai dipeluk malam,
kita tenggelam dalam ingatan masa muda
Menghitung jumlah gunung, hutan, laut dan pulau yang sudah kita taklukan
Betapa masa muda adalah masa penaklukan

Kita adalah sepasang yang dilahirkan oleh setumpuk beban di masa muda
Lalu memutuskan untuk saling menanggung sampai hari tua
Kau dan aku telah menjelma menjadi tempat pelarian ternyaman
Gunung, laut, hutan dan pulau perlahan kita lupakan

Imagine there's no heaven ...

Ah, itu judul melody yang kau mainkan

Kita dahulu adalah manusia-manusia naif yang terjebak dalam dunia paling hipokrit
Kau memutuskan keluar lebih dahulu dan membangun usaha yang jatuh bangun
Sementara aku, mungkin butuh waktu yang sedikit lebih lama

Imagine there's no heaven ...

Dulu aku bisa membayangkannya
Duduk di depanmu saat ini
Seperti ini,
Menjadikanku menerima lupa bagaimana rasanya jika tak ada surga,

Sementara KITA telah menjelma surga...

Kupang, 13 Mei 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Cinta di Masa Lalu : Perempuan Cerdas

  Semua orang pernah bucin, termasuk saya. Suatu hari di bulan November 2020, bersama Delonix regia  yang sedang mekar-mekarnya, kebucinan saya turut memekarkan sebuah surat yang ditulis pakai otak. Bisakah ini dibilang bucin paling intelektual? Entahlah, silahkan nilai sendiri, wkwkwkwk. Untuk pertama kali saya ingin mempublikasi sebuah surat cinta yang saya pernah tuliskan kepada seseorang. Satu surat yang saya comot dari 11 surat yang pernah saya tulis untuknya (beruntung sekali dia, seumur hidup saya jarang menulis surat cinta). Draft aslinya hanya ada pada kami, berharap akan ia kembangkan menjadi novel terbarunya. Semoga! Kepada Y, Sepertinya saya telah kecanduan menulis untukmu, sayang.   Entah kenapa ini lebih menyenangkan dan menenangkan dari pembicaaran-pembicaraan singkat kita di chat maupun lewat telfon. Kehadiranmu akhir-akhir ini tampaknya sudah menjadi sebuah diari ekspresi saya yang baru. Hanya saja belum semua mampu saya utarakan, termasuk hal-hal di bela...

Buku Ecocide : Melawan Pelanggaran Berat HAM di Indonesia

Dalam juridiksi Internasional Criminal Court (ICC) atau Mahkamah Pidana Internasional yang dibentuk oleh statuta Roma tahun 2002, dikenal 4 tindakan kejahatan serius terhadap perdamaian yang diadili secara internasional yakni Genocide (pemusnahan besar-besaran terhadap suatu suku bangsa), Crime Against Humanity (Kejahatan terhadap kemanusiaan), War Crimes (Kejahatan Perang) dan Aggression (Agresi). Pada April tahun 2011, seorang pengacara publik Inggris bernama Polly Higgins mengajukan sebuah proposal untuk mengamandemen Statuta Roma dengan memasukan sebuah bentuk kejahatan lain sebagai kejahatan ke lima yang harus diadili di meja ICC. Bentuk kejahatan tersebut oleh Higgins disebut sebagai Ecocide (Ekosida). Ekosida didefenisikan sebagai perusakan yang luas, hilangnya suatu ekosisem dari suatu wilayah tertentu, baik oleh agen manusia atau sesuatu yang lain sedemikian rupa sehingga kenikmatan damai oleh penduduk wilayah tersebut telah berkurang. Secara singkat Ekosida adalah pemusnahan ...

Sebuah Catatan dari Kamis, 24 Oktober 2019

Setelah memasuki minggu-minggu Sustainable Development Course , kamis adalah hari di mana peserta program INSPIRASI 2019 melakukan visit atau kunjungan ke lembaga atau organisasi maupun individu yang berkaitan dengan minat belajar ( special interest ) – nya masing-masing. Hari itu saya mempunyai dua jadwal kunjungan. Di Pagi hari saya harus mengunjungi salah satu lembaga advokasi lingkungan hidup pada jaringan internasional, Greenpeace New Zealand yang kebetulan bermarkas di Mount Eden, Kota Auckland. Lalu pada siang hari saya harus bertemu dengan aktivis-aktivis lingkungan remaja yang menyebut komunitas mereka Para Kore Ki Tamaki atau komunitas Zero Waste Auckland di Western Springs College. Greenpeace New Zealand Untuk tiba di kantor Greenpeace, pagi itu, seperti pada hari kuliah biasa saya harus menggunakan kapal Ferry ke City Center (pusat kota) selama 30 menit   dari Hobsonville, sebuah wilayah suburban tempat saya tinggal bersama host family. Sesampainya di Downtown Fer...