Maria Dethan, begitu ia memperkenalkan dirinya saat kami bertemu di suatu sore di tengah pematang sawah. Saya kemudian memanggilnya mama Maria. Ia adalah seorang perempuan berusia enam puluhan yang semenjak menikah dengan suaminya berprofesi sebagai petani di Manikin, Kelurahan Tarus Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur. Sayang, perbincangan tentang sang suami adalah topik yang membawa duka. Pasalnya ia baru saja kehilangan suaminya beberapa bulan yang lalu, di saat lahan sudah siap digarap kembali untuk masa panen pertama di awal tahun. Sejak sang suami tiada, peran sebagai ibu sekaligus ayah bagi dua orang anak nya harus ia jalankan.
“saya punya anak yang pertama su tamat dan kerja. Sonde lanjut kuliah. Yang nona, anak kedua baru kelas tiga di SMK 6 Kupang”, ceritanya singkat tentang kedua anaknya.
Anak pertamanya memilih tidak melanjutkan studi di Perguruan Tinggi dan memutuskan untuk bekerja lantaran keadaan ekonomi keluarga mama Maria sangat pas-pasan. Ia mengaku, penghasilan yang diperoleh dari sawah tidak seberapa. Padi yang dipanen hanya digunakan untuk mencukupi kebutuhan pribadi. Belum lagi harus dibagi dengan para petani penggarap yang membantunya.
“Neuh mah kalo ketong susah uang baru jual. Kalo sonde nah makan do. Ketong jual sedikit sa untuk anak dong pung uang skolah”.
Jika dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, mama Maria mengeluhkan bahwa debit air yang masuk ke petak sawahnya yang seluas 17 are itu semakin berkurang. Hal ini berpengaruh kepada kondisi padinya. Sambil mengusir burung-burung yang mencuri kesempatan untuk memakan padinya, Ia mengajak saya untuk masuk dan menunjukan beberapa padi yang bulirnya masih hijau sementara lainnya sudah menguning.
“ini kali baru susah mah dulu air banyak. Yang hijau dong ini beta hanya harap embun sa. Mah coba kalau beta dapat air, baru ini padi dia pung model sama ke di depan sana ko bagus”,
“berarti kalau musim hujan padi bagus ko mama?”,
“sonde, malah musim hujan lebe parah lai. Kalau musim hujan penyakit banyak. apalai kalau hujan angin. Ketong sonde dapat apa-apa. Padi rusak semua”,
Dengan pengetahuan saya yang cukup awam, saya berpikir bahwa pada musim hujan hasil panen yang diperoleh akan lebih banyak. Nyatanya saya salah.
Matahari semakin condong ke barat, hari semakin sore. Angin dingin mulai bertiup mengharuskan saya untuk segera pamit.
Beberapa hari kemudian, saya mengikuti sebuah diskusi online yang membahas tentang kebijakan iklim yang tidak berpihak pada generasi yang akan datang dan kaum rentan. Saya teringat akan mama Maria. Setiap hari, pagi dan sore ia datang ke sawah untuk menjaga padi-padinya berharap bisa memanennya dengan utuh. Kalau musibah terjadi, ia hanya bisa pasrah dengan alasan alam sudah berlaku demikian tanpa sadar bahwa di atas sana ada ratusan koorporasi kaya yang menyumbang emisi besar-besaran ke permukaan bumi.
“Ketong mau menangis sakit hati nah menangis sudah, mau bilang apa lai nona. Ko alam su buat begitu”, akunya sore itu
Mama Maria tidak tahu menahu soal kebijakan-kebijakan yang tidak memperhatikan keberadaan sawah-ladang miliknya dan petani lain di Indonesia, yang semakin memperparah anomali iklim bumi. Mama Maria tidak tahu sama sekali apa itu krisis iklim, mama Maria tidak tau apa itu IPCC apalagi laju konsumsi Carbon Budget Indonesia yang mungkin akan habis sebelum 2030 akibat pembangunan yang business as usual. Ah terlalu jauh.
Mama Maria, si Petani Perempuan sekaligus orang tua tunggal itu hanya tahu; alam sudah begitu.
Komentar
Posting Komentar