Langsung ke konten utama

Postingan

Lingkungan Hidup dan Kekerasan Terhadap Perempuan

Kalian pernah dengar cerita; istri seorang petani yang dihajar hingga babak belur lantaran si petani kesal karena hasil panennya tidak baik, atau nelayan yang memukul istrinya karena stres hasil tangkapannya berkurang? Kalian pernah dengar cerita; karena keterbatasan akses terhadap sumber daya alam, makanan di atas meja tidak ada lalu perempuan menjadi sasaran kekerasan? Kalian pernah dengar cerita; beban ganda pekerjaan istri petani dan nelayan karena penghasilan dari bertani dan melaut tidak memenuhi kebutuhan rumah tangga? Bahkan ada yang harus pergi bekerja di luar negeri lalu mengalami kekerasan bahkan pulang dalam keadaan tak bernyawa? Kalian pernah dengar cerita; perempuan-perempuan yg mengalami kriminalisasi dan kekerasan saat menuntut akses terhadap Sumber Daya Alam? Kalian pernah dengar cerita; perjuangan perempuan-perempuan yang berjalan berkilo-kilometer demi mencari air bersih untuk keperluan rumah tangga dan sanitasi tubuhnya? Kalian pernah dengar cerita; perempuan-peremp...

Sebuah Catatan dari Kamis, 24 Oktober 2019

Setelah memasuki minggu-minggu Sustainable Development Course , kamis adalah hari di mana peserta program INSPIRASI 2019 melakukan visit atau kunjungan ke lembaga atau organisasi maupun individu yang berkaitan dengan minat belajar ( special interest ) – nya masing-masing. Hari itu saya mempunyai dua jadwal kunjungan. Di Pagi hari saya harus mengunjungi salah satu lembaga advokasi lingkungan hidup pada jaringan internasional, Greenpeace New Zealand yang kebetulan bermarkas di Mount Eden, Kota Auckland. Lalu pada siang hari saya harus bertemu dengan aktivis-aktivis lingkungan remaja yang menyebut komunitas mereka Para Kore Ki Tamaki atau komunitas Zero Waste Auckland di Western Springs College. Greenpeace New Zealand Untuk tiba di kantor Greenpeace, pagi itu, seperti pada hari kuliah biasa saya harus menggunakan kapal Ferry ke City Center (pusat kota) selama 30 menit   dari Hobsonville, sebuah wilayah suburban tempat saya tinggal bersama host family. Sesampainya di Downtown Fer...

Kesadahan Air Tanah di Kota Kupang (Refleksi Materi Pembelajaran Kimia Unsur Logam Alkali)

Sumber : Youtube WALHI NTT Tulisan ini adalah satu dari sekian banyak refleksi yang saya peroleh dan dapat saya tuliskan melalui aktivitas rutin saya tiap minggu yakni mengajar Kimia secara privat kepada siswa SMA. Minggu lalu, saya dan siswa saya belajar tentang Kimia Unsur. Materi ini merupakan materi pembelajaran Kimia untuk kelas XII SMA. Meskipun kurikulum dalam kurun waktu 8 tahun terakhir mengalami beberapa perubahan, materi ini tidak cukup jauh berbeda dengan apa yang saya pelajari sewaktu masih duduk di bangku SMA. Dalam materi tersebut kami membahas tentang unsur logam alkali dan alkali tanah yang dalam tabel periodik unsur kimia ditempatkan pada golongan IA dan golongan IIA. Rata-rata, unsur-unsur yang ada dalam golongan tersebut jika dilarutkan dalam air akan menghasilkan senyawa pembawa sifat basa (pH > 7). Hal ini yang membuat unsur-unsur tersebut dinamakan Alkali, yang secara harafiah berasal dari bahasa Arab al-qaly yaitu abu yang dalam air bersifat basa. Ketika...

Perempuan Petani dan Krisis Iklim

Maria Dethan, begitu ia memperkenalkan dirinya saat kami bertemu di suatu sore di tengah pematang sawah. Saya kemudian memanggilnya mama Maria. Ia adalah seorang perempuan berusia enam puluhan yang semenjak menikah dengan suaminya berprofesi sebagai petani di Manikin, Kelurahan Tarus Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur. Sayang, perbincangan tentang sang suami adalah topik yang membawa duka. Pasalnya ia baru saja kehilangan suaminya beberapa bulan yang lalu, di saat lahan sudah siap digarap kembali untuk masa panen pertama di awal tahun. Sejak sang suami tiada, peran sebagai ibu sekaligus ayah bagi dua orang anak nya harus ia jalankan. “saya punya anak yang pertama su tamat dan kerja. Sonde lanjut kuliah. Yang nona, anak kedua baru kelas tiga di SMK 6 Kupang”, ceritanya singkat tentang kedua anaknya. Anak pertamanya memilih tidak melanjutkan studi di Perguruan Tinggi dan memutuskan untuk bekerja lantaran keadaan ekonomi keluarga mama Maria sangat pas-pasan. Ia mengaku, penghasilan yang...

Science Alkohol Dalam Isu Sosial Budaya di Indonesia

  Di awal 2019, jika kita mengikuti perkembangan berita tentang pemerintahan di beberapa daerah Indonesia Timur maka akan kita temukan dua daerah dengan pemberitaan yang mirip namun kontroversi. Dua Daerah itu adalah NTT dan Maluku. Saat itu, Viktor B. Laiskodat yang baru saja menjabat sebagai Gubernur NTT selama beberapa bulan, muncul dengan gagasan untuk melegalkan Sopi. Selain alasan menumbuhkan ekonomi kerakyatan, minuman alkohol tradisional tersebut dilegalkan sebagai bentuk upaya pelestarian budaya NTT.  Sementara itu, di Provinsi tetangganya, Maluku, Murad Ismail selaku Gubernur menolak dengan tegas legalisasi Sopi. Dilansir dari media online Suara.com (28/06/2019), Murad menyatakan bahwa Maluku berbeda dengan NTT, Manado dan Bali yang sudah melegalkan minuman tradisonal mereka. Maluku memiliki masyarakat yang beragam karakteristiknya sehingga akan memicu konflik diantara masyarakatnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan minuman beralkohol sekalipun dalam aspek bud...

Sumaq Risuchun

Kau kabut... Demi memandangmu, aku memilih merapuh dengan sukarela... Rasa ini hidup secara vegetatif, seperti gulma yang keras kepala... Sering ku cabut berkali-kali, namun ia selalu tumbuh kembali seolah tak ada yang terjadi.... Sementara perasaanmu seperti agen misterius, tanpa alamat tetap atau nomor telepon... Satu-satu nya mailbox yang ku simpan sejauh ini adalah peluk dan perhatianmu yang kadang-kadang itu.... Akhir-akhir ini matahari musim semi terang sekali,  Kau mulai tak muncul.... Mungkin karena kau selalu berharap jawaban terhadap ratusan apa sedangkan aku hanya mampu menjawab satu kenapa,.. Sial, benakku berulah... Kemarin kau menampakan diri lagi.... Bukan dalam rupa kabut, namun fatamorgana.... Diam-diam kau bisikan "sayang, dunia kita tak berkaitan satu sama lain" Sumaq risuchun!* Hobsonville, 17 November 2019 *Bolivia: Selamat Tinggal

Hamil di Luar Nikah

Ilustrasi Wanita Hamil (sumber: republika.co.id) Peringatan:  Ditulis pakai bahasa Kupang, dengan penuh emosi. Yang sering terjadi di ketong pung lingkungan sekitar kalau ada anak perempuan yang hamil di luar nikah pasti akan kena guyur dengan stigma-stigma (pandangan) seperti: perempuan sonde bae, perempuan bagatal, perempuan kotor, perempuan nakal, pendosa besar (sama kek yang omong snd pernah buat dosa), anak yang bikin rusak nama baik keluarga, akibat pake baju sembarang makanya laki-laki nae ame, sapa suruh pulang malam atau dapat omng dari pihak keluarga yg menghamili "bikin rusak ketong pung anak laki-laki" dan stigma-stigma jelek lainnya (kalau ada stigma lain bisa tambahkan sendiri di kolom komentar). Pertanyaannya: kenapa e pandangan-pandangan buruk kek begitu dong lari semua pi anak perempuan? Kenapa itu stigma semua seolah-olah bilang kalau perempuan yang hamil di luar nikah tuh akibat dia pung salah sendiri? Kenapa yang kasih hamil son...