Langsung ke konten utama

Postingan

Buku dan Perubahan Iklim (Sebuah Refleksi)

Beberapa hari lalu saya memperoleh dua buku baru dari seorang teman dekat di kantor sebagai  early birthday gift  lalu memostingnya di  story whatsapp .  Story  tersebut mendapatkan sebuah respon tak terduga yang membuat saya termenung dan cukup mengganggu pikiran saya seharian penuh.    “ That is why global warming is always increasing ”, kira-kira begitu isi pesan yang mengomentari postingan saya di  story whatsapp . Benak saya seketika menjadi jalur lalu-lintas beberapa pertanyaan seperti;  apakah membeli buku (atau mungkin membaca buku) memiliki kontribusi dalam memperparah kondisi perubahan iklim? Bukankah di satu sisi membeli buku turut membantu orang lain yang cari makan dari sana (para penulis, editor dan penerbit misalnya)? Bukankah membeli buku untuk dibaca juga memperluas wawasan? Si Ideal Hypocrite dan Buku Barunya Saya kemudian mencoba beberapa cara untuk menggalang perspektif. Pertama saya mulai dengan mencantumkan pertanyaan di...

Buku Ecocide : Melawan Pelanggaran Berat HAM di Indonesia

Dalam juridiksi Internasional Criminal Court (ICC) atau Mahkamah Pidana Internasional yang dibentuk oleh statuta Roma tahun 2002, dikenal 4 tindakan kejahatan serius terhadap perdamaian yang diadili secara internasional yakni Genocide (pemusnahan besar-besaran terhadap suatu suku bangsa), Crime Against Humanity (Kejahatan terhadap kemanusiaan), War Crimes (Kejahatan Perang) dan Aggression (Agresi). Pada April tahun 2011, seorang pengacara publik Inggris bernama Polly Higgins mengajukan sebuah proposal untuk mengamandemen Statuta Roma dengan memasukan sebuah bentuk kejahatan lain sebagai kejahatan ke lima yang harus diadili di meja ICC. Bentuk kejahatan tersebut oleh Higgins disebut sebagai Ecocide (Ekosida). Ekosida didefenisikan sebagai perusakan yang luas, hilangnya suatu ekosisem dari suatu wilayah tertentu, baik oleh agen manusia atau sesuatu yang lain sedemikian rupa sehingga kenikmatan damai oleh penduduk wilayah tersebut telah berkurang. Secara singkat Ekosida adalah pemusnahan ...

Negara Demokrasi Seolah-Olah

Membaca buku ini membuat saya teringat pembicaraan dengan Stephan Kavermann, Host Family saya di Auckland dalam perjalanan mengantar saya ke Terminal Kereta Trans Pulau Utara Selandia Baru. Entah bagaimana, kami tiba-tiba membahas sistem-sistem pemerintahan beberapa negara di dunia dan permasalahan-permasalahan sosial yang timbul akibatnya.  Pembahasan itu berakhir pada pertanyaan yang dijawab sendiri olehnya. "Rima, menurutmu diantara sistem-sistem pemerintahan negara itu ada yang paling baik dan benar? Bagiku tidak ada. Bahkan Demokrasi sekalipun. Tapi setidaknya Demokrasi bisa menjadi pilihan di antara yang teburuk".  Ada benarnya juga, setidaknya demokrasi masih memberikan hak bagi masyarakat untuk menyampaikan suaranya. Walau dalam kenyataannya banyak kebiri yang terjadi karena watak antikiritik pemerintahannya ( people in authority )  Membaca buku ini juga membuat andagium "jangan tanyakan apa yang sudah negara berikan padamu tapi tanyakan apa yang sudah kau be...

Jaga Karst Jaga Kehidupan

Tahukah teman-teman jika tanggal 28 Maret sering dikenal sebagai hari karst nasional? Lalu apa itu karst dan kenapa ada hari khusus yang memperingatinya?  Karst adalah istilah dalam bahasa Jerman yang diturunkan dari bahasa Slovenia yang berarti lahan gersang berbatu (Haryono dan Adji, 2004 dalam Cahyadi 2010). Istilah tersebut sebenarnya menggambarkan kondisi yang sering ditemui di banyak daerah yang berbatuan karbonat atau batuan lain yang memiliki sifat mudah larut. Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM RI Nomor 17 Tahun 2012 tentang penetapan kawasan bentang alam karst, karst di definisikan sebagai bentang alam yang terbentuk karena proses pelarutan batu gamping atau batu kapur (CaCO 3 atau kalsium karbonat). Umumnya kawasan karst dicirikan dengan adanya lubang (sinkhole), sungai hilang, aliran air/sungai bawah tanah dan gua. Jika teman-teman jalan-jalan ke wilayah Bolok dan familiar dengan gua Kristal yang saat ini jadi salah satu tempat wisata favorit di Kabupaten Kupang, teman...

Sebuah Refleksi Kimiawi; Tanah Dan Nenek Moyang

Bagi saya, memberi reward kepada diri sendiri setelah mengerjakan sesuatu yang menyita banyak tenaga dan pikiran adalah sesuatu yang wajib dilakukan. Membelikan diri makanan kesukaan, menonton film, jalan-jalan, tidur-tiduran, malas-malasan atau membaca adalah hal-hal yang sering saya lakukan untuk berterima kasih kepada diri saya setelah berusaha menyelesaikan sesuatu. Kali ini, saya memberi diri saya kesempatan untuk melawat buku-buku yang belum sempat saya selesaikan. Saat ini saya tengah membaca sebuah buku yang beberapa minggu lalu dikirimkan seorang teman baik dari Bogor. Judul buku itu adalah “Jalan Pulang”, sebuah catatan perjalanan di Spanyol yang ditulis oleh Maria Hartiningsih seorang jurnalis Harian Pagi Kompas (1984-2014). Saya belum menamatkan tulisan yang terdiri dari 479 halaman itu, tetapi ada satu bagian yang menggugah pikiran. Bagian itu berisi narasi tentang kematian, tetapi entah bagaimana pikiran saya membawa saya kepada hal lain, yaitu bagaimana tanah bisa menj...

Lingkungan Hidup dan Kekerasan Terhadap Perempuan

Kalian pernah dengar cerita; istri seorang petani yang dihajar hingga babak belur lantaran si petani kesal karena hasil panennya tidak baik, atau nelayan yang memukul istrinya karena stres hasil tangkapannya berkurang? Kalian pernah dengar cerita; karena keterbatasan akses terhadap sumber daya alam, makanan di atas meja tidak ada lalu perempuan menjadi sasaran kekerasan? Kalian pernah dengar cerita; beban ganda pekerjaan istri petani dan nelayan karena penghasilan dari bertani dan melaut tidak memenuhi kebutuhan rumah tangga? Bahkan ada yang harus pergi bekerja di luar negeri lalu mengalami kekerasan bahkan pulang dalam keadaan tak bernyawa? Kalian pernah dengar cerita; perempuan-perempuan yg mengalami kriminalisasi dan kekerasan saat menuntut akses terhadap Sumber Daya Alam? Kalian pernah dengar cerita; perjuangan perempuan-perempuan yang berjalan berkilo-kilometer demi mencari air bersih untuk keperluan rumah tangga dan sanitasi tubuhnya? Kalian pernah dengar cerita; perempuan-peremp...

Sebuah Catatan dari Kamis, 24 Oktober 2019

Setelah memasuki minggu-minggu Sustainable Development Course , kamis adalah hari di mana peserta program INSPIRASI 2019 melakukan visit atau kunjungan ke lembaga atau organisasi maupun individu yang berkaitan dengan minat belajar ( special interest ) – nya masing-masing. Hari itu saya mempunyai dua jadwal kunjungan. Di Pagi hari saya harus mengunjungi salah satu lembaga advokasi lingkungan hidup pada jaringan internasional, Greenpeace New Zealand yang kebetulan bermarkas di Mount Eden, Kota Auckland. Lalu pada siang hari saya harus bertemu dengan aktivis-aktivis lingkungan remaja yang menyebut komunitas mereka Para Kore Ki Tamaki atau komunitas Zero Waste Auckland di Western Springs College. Greenpeace New Zealand Untuk tiba di kantor Greenpeace, pagi itu, seperti pada hari kuliah biasa saya harus menggunakan kapal Ferry ke City Center (pusat kota) selama 30 menit   dari Hobsonville, sebuah wilayah suburban tempat saya tinggal bersama host family. Sesampainya di Downtown Fer...