Langsung ke konten utama

Postingan

Antologi 25 Maret

I. Ada rindu menginap di jendela Tergantung, melambai-lambai Menawarkan angin segar dalam pengapnya kamar 3 x 4 Exhauster  pun sengaja dipasang, Biar terhempas dan terbang menghilang Segala apek dan pengap Diiringi alunan hati-hati di jalan Namun bersama Tulus, ia keras kepala ingin tinggal   Tuut... tuut... tuut... tuut.... Halo? Apa kabar? Aku rindu Kupang, tapi tidak rumah Semoga selalu berbahagia!   II. Mereka, Dua organis kompleks,  Yang dipertemukan proses anabolisme kehidupan Semakin kompleks mereka bersama,  Kenaifan bahagia menuntut khelat Sayang,  Mereka lupa bahwa kadang siklus hidup itu enzimatis Di mana katabolisme takkan pernah bisa terelakan   Menyisakan partikel kenangan, Mengeksitasi rindu sampai orbital tak tentu Terpental dan menghambur  Melampaui kecepatan cahaya dalam ruang hampa Terkristalisasi dalam semesta baru Pada batas ketiaadaan,  Insting kematian dan kehidupan ...

Melodi Sore Hari

I wanna grow old with you... Di pojok kedai kopi yang kita dirikan, Kau memainkan gitar akustik tua mu Tak ada nyanyian seperti biasa, hanya melodi Aku baru saja merapihkan perpustakaan, di pojok idola kita Lalu duduk dengan sebuah buku Sembari menikmati setiap bunyi yang kau petik Di depan kita sudah ada cappucino hangat Dengan latte art favoritku, Tentu, kau sendiri yang membuatnya. Sore mulai dipeluk malam, kita tenggelam dalam ingatan masa muda Menghitung jumlah gunung, hutan, laut dan pulau yang sudah kita taklukan Betapa masa muda adalah masa penaklukan Kita adalah sepasang yang dilahirkan oleh setumpuk beban di masa muda Lalu memutuskan untuk saling menanggung sampai hari tua Kau dan aku telah menjelma menjadi tempat pelarian ternyaman Gunung, laut, hutan dan pulau perlahan kita lupakan Imagine there's no heaven ... Ah, itu judul melody yang kau mainkan Kita dahulu adalah manusia-manusia naif yang terjebak dalam dunia paling hipokrit Kau memutuskan keluar lebih dahulu dan me...

Menggugat Rasio dan Rasa

Kepada Y, Saya menuliskan ini saat kau mungkin tengah dipeluk oleh mimpi indah, semoga. Sejak pembicaraan kita di malam minggu kemarin, terkait rasamu, ada satu lubang yang entah bagaimana muncul di hati saya. Lubang itu berusaha menarik saya masuk ke dalamya. Tarik tolak antara keinginan untuk malas tau dengan gravitasi yang disebabkan lubang itu membuat saya kesulitan untuk tidur. Apakah kejujuranmu tentang "adil terhadap rasa" telah membuat saya cemburu? Saya sampai saat ini masih berusaha keras menyangkal bahwa ini cemburu. Saya berusaha merasionalisasi apa yang saya pikirkan tetapi kadang rasa sepertinya menang. Begitu terus, rasa dan rasionalitas berganti menguasai pikiran saya hingga tubuh mendatangkan protes bahwa ia lelah melalui rasa kantuk. Saya mau mengaku, saya adalah seorang overthinker . Segala kelelahan dalam hidup saya selalu disebabkan oleh kebiasaan ini. Berpikir positif? Rasanya susah sekali, karena saya selalu punya dua, tujuh, sembilan, sepuluh, se...

Novel Mei Merah 1998, Naning Pranoto

  Novel Mei Merah 1998, Naning Pranoto Sebenarnya ini buku yang sudah dibaca sejak Desember lalu namun bab terakhirnya diselesaikan pada hari kedua di tahun baru. Bisa dibilang menamatkan buku ini adalah salah satu bentuk melanjutkan resolusi 2021 yang tertunda sekaligus menjadi buku yang pertama diselesaikan di 2022… wkwkwkwkw Dari judulnya sudah ketahuan latar waktu dari novel ini. Novel ini mengangkat cerita dengan latar sejarah kelam yang pernah terjadi di Indonesia; Pemerkosaan massal yang memulai reformasi 1998. Sebuah peristiwa terror politik menggunakan tubuh perempuan. Mengisahkan tentang seorang perempuan berdarah cina, Humaira yang hijrah dari sebuah Desa di Yogayakarta ke ibukota untuk mencari pekerjaan. Namun malang, hijrahnya itu berakhir tragis sebagai salah satu korban pemerkosaan Mei 1998. Akibat pemerkosaan tersebut, Humaira hamil dan melahirkan seorang anak perempuan bernama Luk-Luk, lalu bunuh diri tidak lama setelah melahirkan. Humaira mengisahkan semua cer...

Mari Kita Akhiri untuk Memulai; Surat Kepada Diri Sendiri

Dear Rima, Ku harap hari ini kau baik-baik saja.   Ya, kau sudah melakukan yang baik. Terima kasih sudah jujur dengan diri sendiri. Terima kasih sudah kuat melalui hari-hari yang berat selama tahun ini. Mari kita sama-sama lepaskan segala kenangan yang membuatmu terbelengu air mata, tidak usah dipaksa. Pelan-pelan saja. Peluk untukmu Rima. Mari kita melangkah maju, kita tinggalkan segala kekesalan, segala sakit hati dan terima bahwa semua itu sudah berlalu. Kau bisa, kau selalu bisa Rima. Lihat tempat mu berdiri sekarang? Itu adalah pencapaian luar biasa. Mari berbesar hati menerima semua kehilangan, mari berbesar hati menghadapi hal-hal yang tidak bisa kau ubah. Mari berbesar hati untuk tidak membandingkan prosesmu dengan orang lain. Setiap orang punya prosesnya masing-masing dan prosesmu adalah proses yang terbaik untuk dirimu sendiri. Sudah ya Rima sayang. Aku sangat mencintai dirimu, mencintai segala kekurangan dan kelebihanmu. Tidak ada yang bisa mencintai dan menerimamu l...

Re: dan PeRempuan

Re: dan PeRempuan adalah dua novel Maman Suherman dalam satu buku. Novel Re: diangkat dari kisah nyata yang ditulis sebagai skripsi Maman untuk menuntaskan pendidikan S1 di FISIPOL UI jurusan Kriminologi sementara PeRempuan merupakan sequel dari Re:. Re: adalah nama salah seorang pelacur lesbian di tempat Kang Maman keluar masuk untuk menuntaskan skripsinya. Sebelumnya ia adalah seorang gadis SMA, yang sejak kecil dianggap anak haram oleh neneknya, kemudian mengalami nasib yang sama dengan ibunya; hamil di luar nikah. Ia melarikan diri dari Bandung ke Jakarta, lalu bertemu perempuan berhati mulia yang merawatnya sampai melahirkan anaknya Melur. Sayangnya, perlakuan baik tersebut dicatat oleh Mami Lani sebagai hutang dan Re: harus membayarnya dengan tubuhnya. Ia dipaksa bekerja sebagai pelacur lesbian. Anaknya yang baru 4 bulanpun harus ia titipkan kepada pasangan suami istri baik hati dan merelakan panggilan "tante" diberikan oleh anaknya. "Ia suci. Tak pantas minum ASI ...

Pelabuhan Rapuh; Tempat Persinggahan Hati yang Terluka

Usai melewati badai dan gelombang yang memabukan, tiba-tiba saja aku sudah terombang ambing di dekat sebuah pulau. Dari kejauhan sebuah pelabuhan tertangkap penglihatanku. Ia terlihat rapuh. Disekeliling kerapuhannya laut terlihat biru pekat. Dalam. Membuatku ragu untuk mendekat. Sekalipun aku pandai mengapung, badai telah menghabiskan seluruh energiku. Tentu aku tak akan sanggup melepaskan diriku jika aku ikut roboh bersamanya ke dalam laut yang dalam itu. Hari semakin terik, matahari tepat naik di atas kepala. Lambat laun, sisa-sisa energiku mulai sirna. Aku semakin merasa lelah terombang ambing. Lalu pada akhirnya kuputuskan mendekat. Ku jatuhkan jangkarku dengan hati-hati, takut melukainya. Benar,  pelabuhan itu terlihat rapuh sekali. Disekelilingnya laut begitu dalam. Jangkarku bahkan tak menemui dasar laut. Mengapung. Sesaat aku hampir terhempas kembali ke lautan luas hingga kurasakan jangkarku terpaut pada sebuah beton. Ternyata itu adalah fondasi pelabuhan tersebut. Tak sep...